MANOKWARI, KabarMerdeka.ID – Kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIV Nasional asal Provinsi Maluku Utara resmi mendarat di Bandar Udara Rendani, Manokwari, Papua Barat, pada Jumat (19/06/2026). Kedatangan rombongan yang berjumlah 284 orang ini menjadi sorotan publik, lantaran para pemimpin daerah ikut serta langsung dalam satu penerbangan maskapai Super Air Jet dari Ternate.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, didampingi Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua dan Anggota DPRD Maluku Utara Aksandri Kitong, turut mengawal perjalanan para peserta. Kehadiran para pejabat di garis depan ini dinilai memberikan semangat dan dukungan moral yang luar biasa bagi seluruh delegasi.
Sebelum keberangkatan, Gubernur Sherly Tjoanda menekankan bahwa nilai solidaritas dan ketulusan jauh lebih penting daripada sekadar hasil atau peringkat.
“Kami semua mendoakan agar Bapak dan Ibu mampu menampilkan performa terbaik. Senandungkan pujian dari lubuk hati terdalam. Apa pun hasilnya, yang terpenting adalah dedikasi maksimal. Nikmati prosesnya, saling menjaga, dan ingatlah bahwa esensi utama perjalanan ini adalah sebuah persembahan syukur,” ujar Gubernur Sherly.
Hal senada disampaikan Bupati Piet Hein Babua yang turut mendampingi kontingen hingga lokasi acara. Ia menyampaikan optimisme agar kontingen Maluku Utara dapat pulang dengan membawa kemenangan.
“Kami mengantarkan langsung Saudara-saudara menuju medan bakti dengan satu harapan besar: kita berangkat dengan kesiapan penuh, dan kembali ke daerah dengan membawa sorak-sorai kemenangan,” tuturnya.
Kontingen berjumlah 284 orang tersebut terdiri dari peserta lomba, pelatih, dan ofisial. Mereka merupakan talenta terbaik yang telah melalui seleksi ketat dari empat wilayah, yaitu Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur, dan Pulau Morotai. Turut serta dalam rombongan juga Ketua LPPD Maluku Utara Harfifal Nally Thomas, Ketua DPRD Halut Christina Lesnussa, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat lainnya.
Setibanya di bandara, rombongan disambut hangat oleh ribuan warga Manokwari yang telah menunggu sejak siang hari. Pemerintah Provinsi Papua Barat dan perwakilan jemaat gereja setempat juga memberikan penyambutan resmi dengan upacara adat.
Pemilihan Manokwari sebagai tuan rumah memiliki makna tersendiri. Kota yang dijuluki “Kota Injil” ini merupakan tempat pertama kali masuknya agama Kristen Protestan di Tanah Papua melalui Pulau Mansinam pada tahun 1855, yang sejalan dengan misi Pesparawi.
Selain aspek spiritual dan budaya, ajang tahun ini juga mengusung konsep ramah lingkungan (eco-friendly). Panitia memberlakukan aturan ketat di mana seluruh peserta, termasuk delegasi Maluku Utara, wajib membawa wadah air minum sendiri atau tumbler untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama kegiatan berlangsung.
Editor: (Eko Putra Septiyanto)


Tinggalkan Balasan