TANA TIDUNG – Beragam pertunjukan budaya ikut memeriahkan Irau dan HUT Kabupaten Tana Tidung.

Satu diantaranya, penurunan Mahligai ke Ajung Berambang Padau Talu Dulu atau dimaknai sebagai Perahu Tiga Haluan. Prosesi adat ini bertempat di Kecamatan Sesayap, Senin (19/8/2024).

Selanjutnya, perahu tersebut di berangkatkan ke pelabuhan Keramat Tideng Pale bersama dengan sejumlah tokoh adat, stakeholder terkait.

Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali didampingi istri tercinta, Vamelia Ibrahim Ikut memeriahkan prosesi ini. Saat diwawancarai menyatakan, pemerintah ingin berkomitmen menjadikan KTT  sebagai kabupaten yang berbudaya adat, istiadat.

“Ini tentu mengangkat dari filosofi tentang suku asli Tidung yang menjadi pribumi di KTT,” tuturnya.

Prosesi penurunan Ajung Berambang Padau Talu Dulung, menunjukkan cerita bahwa perpindahan dari kampung tua yang ada di Desa Menjelutung yang dikenal dulu dengan Raja Benayuk menggunakan perahu.

Dan itu lah yang menjadi cikal bakal awalnya perahu yang dipakai orang Tidung yang disebut Ajung Berambang Padau Talu Dulung.

Pemerintah ingin mengangkat lagi histori bahwa 400 tahun yang lalu, orang Tidung itu sudah ada di Bumi Kalimantan khususnya di Provinsi Kalimantan Utara,” jelas Bupati.

Dari situ kemudian, sambung Bupati orang-orang Tidung ini kemudian menyebar ke Sesayap, Malinau, Tarakan, Nunukan dan beberapa Daerah lainnya.  “Sekarang Kabupaten Tana Tidung sudah terbentuk dan harapan kita di Tana Tidung  yang mengangkat cerita tersebut menjadikan sebuah cerita tentang budaya adat,” tambahnya.

Pemerintah Tana Tidung berkeinginan untuk memasukan budaya khas Tana Tidung ini di dalam pesona nusantara. “Hal ini kemudian terus kita perbaiki supaya lebih menarik lagi. Ke depan, untuk mengundang wisatawan nasional bahkan sampai internasional,” tuturnya.

Penurunan Ajung Berambang Padau Talu Dulung ini mengawali dimulainya prosesi adat. “Jadi tadi perahu sudah di lepas dan prosesinya akan kita lanjut lagi pada acara puncak acara Tana Tidung Syukuran yang ke-7 tahun 2024,”(*)